Kutipan diatas sangat mengena di hati kecil saya, keadaan ekonomi yang semakin tidak karuan, sementara di DESA CONDONG CAMPUR segalanya makin terbatas, lahan pertanian yang semakin terbatas, penduduk yang terus berkembang. Sebenarnya bisa dimaklumi sementara ini tekad umumnya generasi muda yang mengharapkan kesejahteraan di masa depannya dan dengan segala keterbatasan di desa sehingga membuat mereka berpikiran untuk mencari potensial usaha di tempat lain, dan ini dibuktikan oleh sebagian besar warga DESA CONDONG CAMPUR yang dulu hijrah ke luar daerah bahkan luar pulau, serta ke Luar Negeri. Keberhasilan mereka sekarang menjadi “trend” bagi pemuda desa yang menginginkan hal serupa di masa depannya. Keadaan ini semakin memprihatinkan seiring waktu terus berjalan, semakin tinggi tingkat urbanisasi warga desa ke kota ataupun ke tempat lain yang lebih menjanjikan. Karena itu wajar juga jika generasi muda selanjutnya dengan kebutuhan yang semakin beraneka, lebih memilih disebut bayi, dan meninggalkan lahan pertanian, yang memang terhitung kritis, dan kering. Tinggal orang-orang tua yang hampir renta, masih lanjut didorong semangat sudah tradisi, menggarapnya dengan sisa-sisa kekuatan yang ada. Ya benar masih ada satu dua generasi muda yang mempeng terjun ke lahan pertanian seperti itu. Tapi di bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan generasi muda terus larinya ke kota, kerja apa saja, yang penting langsung ada hasilnya. Ada keringat, ada uang. Tidak perlu menunggu berlama-lama sampai musim panen, yang kadang panennya didahului hama. Mulai dari wereng, uret, tikus, dll. Begitulah kondisi alam desa DESA CONDONG CAMPUR, tetapi akhir2 ini mulai berpindah haluan. Bagi generasi muda yang tidak merantau ke kota, lantas bikin usaha seperti jasa transportasi, penyewaan sound system, ataupun para pengrajin dan tukang. Intinya memilih meninggalkan lahan pertanian yang kian tipis menjadi harapan memenuhi kebutuhan. Apakah memang demikian yang disebut dengan kemajuan? Bisa jadi iya. Ketika pola pikir sudah berubah, yang dulu cukup dengan menumpuk padi di lumbung, sekarang lebih memilih menumpuk tabungan di rekening Bank. Itu jika sempat menabung. Tidak keduluan habis untuk sumbangan. Sampai kapan hal ini akan terus berlangsung ? Entahlah tidak ada yang tahu pasti jawabannya. DESA CONDONG CAMPUR yang berada di luar daerah ataupun di perkotaan mulai memikirkan hal ini, jangan lupakan kami, karena asal mula, cikal bakal, nenek moyang kita berada disana. Budaya yang luhur juga ada disana. Mari satukan tujuan, eratkan tangan. Kami sangat berharap ada yang perduli terhadap generasi muda yang masih usia dini (anak-anak) mari kita pedulikan perkembangan mereka, pendidikan mereka. Merekalah yang bisa merubah keadaan ini dimasa mendatang, untuk itu berilah arahan, petunjuk dan pendidikan moral sejak dini, bentuk kepribadian mereka agar bisa bersaing dengan anak-anak dari daerah lain, saya berharap ada suatu keturunan yang mletik menjadi orang besar dikemudian hari, sehingga bisa memajukan DESA CONDONG CAMPUR dan sekitarnya.

Salam